Senin, 22 April 2019



 KEGELISAHAN


Deru angin yang berhembus dingin dikala matahari senja.
Memberi kabar pada ombak-ombak di lautan.
Angin berpesan pada ombak, untuk mengajak pasir pergi.
Dengan senang hati ombak menerima pesan tersebut.
Sampai-sampai  mereka berlomba-lomba untuk menyampaikan pesan angin pada pasir putih.

Tibalah pertemuan antara keduanya
Dengan lembut ombak mengajak pasir untuk pergi, namun pasir tetap diam membisu
Ia sadar bahwa kepergiannya akan membuat suatu permasalahan kedepan
Hari berikutnya terus demikian, alhasil ombak masih menerima jawaban yang sama

Terlampau sering  ajakan ombak ditolak oleh pasir yang tetap berpegang pada prinsipnya.
Namun hal itu, tidak membuat ombak berputus asa.
Tanpa kenal lelah sang ombak membujuk dan merayu pasir agar ikut bersama dalam pengembaraannya.
Berproses yang panjang, pasir mulai goyah dengan prinsipnya.

Akibat kegigihan dari ombak, membuat pasir berpikir keras untuk memilih bertahan atau ikut pergi
Sejatinya ia tidak ingin berpisah dengan daratan
Sebab apa?  Sebab daratanlah yang selalu setia menemaninya saat siang maupun malam
Berbeda halnya dengan ombak, yang memilih pergi disaat pasir sedang membutuhkan

Hubungan keduanya sangatlah erat, namun apa daya pasir tidak sanggup lagi untuk memilih bertahan.
Sebab ada insan yang tidak menghargai kehadiran dan perjuangannya. 
Akibat perilaku buruk yang ditimpakan padanya.
Insan itu sendiri adalah manusia.

Manusia tidak menyadari atas dasar apa ia bertahan untuk tidak beranjak dari tempatnya
Tidak lain adalah demi kepentingan manusia
Ketika budi baik dibalas dengan penghinaan, maka timbullah rasa kekecewaan
Allah berfirman dalam Surah Al -A’raf ayat 56 “ Telah nampak kerusakan di muka bumi dan di lautan akibat tangan-tangan manusia”

Tidak sedikit diantara kita yang malah melecehkannya.
Hamparan pasir putih dikotori dengan berbagai sampah, buang sana kemari tanpa berpikir lebih jauh.
Dan berbuat semena-mena terhadapnya.
Lupa akan hal yang akan datang, dampak dan akibatnya.
  
Pada akhirnya, seiring berjalannya waktu pasir mulai mengindahkan ajakan ombak
Pergilah pasir secara sembunyi, agar daratan tidak tahu akan kepergiannya
Lambat laun, keputusan itu mulai disadari daratan
Daratan merintih kesepian, kehilangan teman sejatinya

Daratan pun marah pada manusia yang telah membuatnya kehilangan  teman.
Melihat temannya pergi, ia memilih pergi jua tanpa berpikir panjang akan nasib manusia.
Setelah kejadian itu, mulailah masalah demi masalah menghantui manusia.
Entah itu bencana longsor, ataupun semacamnya.

Tersadarlah manusia pada hari itu
Menangis pilu terisak-isak, menyesali perbuatannya
Dan bertekad untuk tidak melakukan kesalahan yang sama lagi

Senin, 15 April 2019

ANAK RANTAU



Beranjak jauh dari desa menuju tanah rantauan
Membawa segudang mimpi dan sejuta harapan
Berbekalkan tekad dan semangat
Melangkah maju terus kedepan

Tibalah masanya menginjakkan kaki di tanah perantauan
Terbayang-bayang indahnya hidup di perkotaan
Kiri kanan bangunan megah yang tingginya menjulang
Kerlap-kerlip lampu yang menghiasi gemerlapnya malam

Ditengah keramaian yang seakan tiada sepi
Rasanya tiada beban yang dibawa dalam diri
Seiring berjalannya waktu
Rupanya tak seperti apa yang ku bayangkan

Dibalik megahnya bangunan dan keramaian yang ada
Ternyata menyimpan sejuta kegelapan
Begitu kerasnya bertahan ditanah rantauan
Saat terjatuh, maka adakah tangan yang siap terulurkan? Jawabnya adalah tidak

Terpaan angin terus menghadang
Sementara kerikil-kerikil kecil sudah siap menunggu
Belum lagi bisikan dedaunan dan pepohonan yang terus menghantui
Jatuh bangun sudah pasti

Tapi itu semua harus aku lalui
Ketika prinsipku mulai goyah
Selalu ku ingat pesan dari kampung
Selalu kubawa mimpi-mimpi yang telah aku janjikan pada orangtuaku

Terbesit dihati, ingin seperti mereka yang berkelana bebas di tanah perantauannya
Namun aku bercermin, berbalik kebelakang
Aku tatap dengan tatapan yang dalam
Ternyata disana aku lihat ada mereka

Siapa mereka?
Mereka adalah orangtuaku
Mereka yang rela tidak berputus keringat
Demi gelar sarjana yang aku janjikan

Mereka yang siap terluka
Mereka yang siap berkorban dan melakukan apa saja
Asal senyum di wajah anaknya senantiasa terlukiskan
Nampak dari bayangan cermin

Wajahnya yang cerah telah memudar
Lipatan-lipatan dikening mereka pun turut andil
Tak mampuku mengembalikan cerahnya raut di wajah mereka
Tak mampuku menghilangkan lipatan-lipatan di kening mereka

Mereka bilang ‘tak perlu mengembalikan cerahnya raut wajah kami’
Tak perlu menghilangkan lipatan-lipatan di kening kami
Mereka hanya berpesan ‘belajalah dengan baik, raih mimpimu.’
Karena sukses juga untukmu

Biarlah kami yang menderita, asal kau bahagia
Engkau yang menabur benih
Engkau jua yang memanen
Kami tak berharap rupiah darimu
Yang kami harapkan adalah engkau dapat menggapai cita-citamu.